The Jefferson Bible

saat Thomas Jefferson mengedit Alkitab sesuai logikanya

The Jefferson Bible
I

Pernahkah kita membaca sebuah buku, lalu merasa ada bagian yang sangat tidak masuk akal sampai-sampai kita ingin menggunting halaman tersebut?

Dalam keseharian, mungkin kita hanya melewatinya begitu saja. Namun, di awal abad ke-19, ada seorang pria yang benar-teman mengambil pisau cukur, membuka lembaran sebuah kitab suci, dan mulai memotong ayat-ayat di dalamnya. Ia bukan sedang melakukan aksi vandalisme. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, di malam hari yang sunyi, di ruang kerjanya.

Pria itu adalah Thomas Jefferson. Ya, salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat dan presiden ketiga negara tersebut.

Buku yang ia potong-potong adalah Alkitab.

Bayangkan adegan ini sebentar. Seorang tokoh besar sejarah, duduk di bawah cahaya lilin, secara harfiah mengedit ulang teks paling sakral dalam peradaban Barat menggunakan pisau dan lem. Apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam kepalanya?

II

Untuk memahami jalan pikiran Jefferson, kita harus mundur sejenak dan melihat bagaimana cara kerja otak manusia yang hidup di era Age of Enlightenment atau Abad Pencerahan.

Pada masa itu, sains dan logika mulai mendominasi. Tokoh-tokoh seperti Isaac Newton telah membuktikan bahwa alam semesta bekerja dengan aturan matematika yang pasti. Nah, Jefferson adalah anak dari zaman ini. Otaknya diprogram untuk mencari koherensi rasional. Dalam ilmu psikologi, kita mengenal istilah cognitive dissonance—sebuah rasa tidak nyaman ketika kita dihadapkan pada dua ide yang saling bertentangan.

Bagi Jefferson, cognitive dissonance ini muncul saat ia membaca Alkitab. Di satu sisi, ia sangat mengagumi ajaran moral Yesus yang menurutnya adalah sistem etika paling sempurna yang pernah ada. Namun di sisi lain, otak rasionalnya menolak keras kisah-kisah supranatural.

Air berubah menjadi anggur? Berjalan di atas air? Roti yang berlipat ganda? Bagi seorang pemikir empiris seperti Jefferson, hal-hal tersebut melanggar hukum fisika. Ia menganggap kisah-kisah ajaib itu sebagai "tambahan" yang diselipkan oleh orang-orang di masa lalu.

Maka, ia memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia ingin memisahkan apa yang ia anggap sebagai fakta moral dari apa yang ia pandang sebagai fiksi. Ia menyebut proses ini layaknya "memisahkan berlian dari tumpukan kotoran".

III

Sekarang, mari kita bayangkan, apa jadinya jika kita benar-benar menghilangkan semua unsur magis dari sebuah teks kuno?

Jefferson membeli beberapa eksemplar Alkitab dalam berbagai bahasa—Inggris, Prancis, Latin, dan Yunani. Ia memotong ayat-ayat yang berisi ajaran moral, perumpamaan, dan prinsip etika, lalu menempelkannya di sebuah buku kosong yang baru.

Namun, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan. Jefferson melakukan proyek ini secara diam-diam. Ia tidak pernah menerbitkannya selama ia hidup. Mengapa? Karena secara politis dan sosial, apa yang ia lakukan adalah sebuah bunuh diri reputasi. Mengedit kitab suci sesuai dengan rasionalitas pribadi bisa dengan mudah dicap sebagai penistaan.

Tindakan ini menyisakan sebuah pertanyaan yang menggelitik rasa penasaran kita. Jika semua keajaiban, malaikat, dan mukjizat dipotong habis, cerita seperti apa yang sebenarnya tersisa? Apakah tokoh sentralnya masih sama? Atau ia berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda?

IV

Inilah bagian yang paling mengejutkan dari eksperimen rasional Jefferson.

Buku hasil tempelannya itu ia beri judul The Life and Morals of Jesus of Nazareth—yang kini kita kenal sebagai The Jefferson Bible. Saat kita membuka halamannya, kita tidak akan menemukan kisah malaikat Gabriel datang kepada Maria. Kita tidak akan membaca kisah Yesus menyembuhkan orang buta dengan mukjizat.

Di mata sejarah dan sains, Jefferson telah mengubah seorang tokoh ilahi menjadi seorang filsuf manusia biasa. Ia menempatkan tokoh ini sejajar dengan Socrates atau Epicurus.

Namun, hal yang paling membuat merinding dari The Jefferson Bible adalah cara buku itu berakhir. Dalam teks aslinya, kisah ini memuncak pada kebangkitan yang dramatis, batu penutup makam yang terguling, dan kehidupan kekal.

Lalu, bagaimana versi Jefferson berakhir? Karena logika sains tidak mengenal kebangkitan biologis dari kematian, Jefferson mengakhiri bukunya di hari Jumat. Ayat terakhirnya hanya menceritakan bahwa makam itu ditutup dengan batu. Titik. Buku selesai.

Bagi banyak orang, akhir cerita ini mungkin terdengar dingin dan tanpa harapan. Namun dari sudut pandang Jefferson, itu adalah bentuk penghormatan tertinggi. Ia tidak membenci agama; sebaliknya, ia sangat peduli pada nilai kebaikannya sampai-sampai ia merasa harus "menyelamatkan" ajaran tersebut dengan pisau bedah logikanya.

V

Kisah Thomas Jefferson dan pisau cukurnya ini sebenarnya adalah cermin yang sangat jernih untuk kita semua hari ini.

Teman-teman, tanpa sadar, kita semua memiliki "pisau cukur" di dalam kepala kita. Psikologi modern menyebutnya sebagai confirmation bias. Kita secara alami akan menyaring informasi, memotong bagian yang tidak sesuai dengan keyakinan kita, dan hanya menyimpan "ayat-ayat" yang mendukung opini kita, entah itu soal politik, gaya hidup, hingga prinsip kebenaran.

Jefferson melakukannya secara fisik, di atas kertas, atas nama rasionalitas murni. Ia mengajarkan kita sebuah seni berpikir kritis yang ekstrem: berani membongkar asumsi dan mencari inti kebenaran, bahkan di dalam hal yang paling sakral sekalipun.

Namun, cerita ini juga meninggalkan sebuah ruang empati untuk kita renungkan bersama. Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan hanya dengan hukum fisika dan logika. Kadang, manusia juga butuh narasi, harapan, dan sedikit "keajaiban" untuk bisa bertahan hidup.

Pada akhirnya, sejarah The Jefferson Bible mengingatkan kita bahwa cara kita membaca dunia sama pentingnya dengan dunia itu sendiri. Jadi, saat kita menerima informasi hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: bagian mana yang sedang kita terima sebagai fakta, dan bagian mana yang diam-diam sedang kita potong dengan pisau cukur di pikiran kita?